Sinopsis Coffee and Vanilla Episode 2

Sinopsis Coffee and Vanilla Episode 2

Peringatan!
Adek-adek yang masih kecil-kecil, mohon untuk mundur dan jangan baca sinopsis ini. Harap bijak, yah. Thanks ^^

Risa terbangun keesokan harinya dan mendapati Fukami sedang memandanginya. Risa jadi malu dan langsung menutupi wajahnya pakai selimut sampai membuat Fukami tambah gemas sama dia dan langsung mengec~p pipinya.


Yang tidak disangkanya, Fukami ternyata jago masak juga. Risa jadi semakin kagum padanya. Fukami bukan cuma keren, tapi juga pintar masak, enak lagi masakannya. Dia terlalu sempurna.

"Lain kali, aku ingin mencoba masakanmu juga." Ujar Fukami.

"Aku tidak begitu pandai memasak, tapi aku akan berusaha yang terbaik."


Tapi senyumnya dengan cepat menghilang saat tiba-tiba dia teringat ucapan Fukami semalam. Dia jadi bimbang, haruskah dia menanyakan masalah percakapan teleponnya semalam itu? Apa Fukami baik padanya karena Fukami sungguh-sungguh mencintainya? Ataukah...

 

Fukami tiba-tiba menyela lamunannya dan tanya biasanya Risa belanja di mana? Semisal, belanja aksesoris dan baju-baju?

Risa sontak galau, berpikir kalau Fukami pasti sedang mengetes fashion sense-nya. Apa yang dia lakukan, biasanya dia belanja baju di toko-toko biasa. Kan malu kalau harus ngasih tahu Fukami.

Tapi Fukami meyakinkan Risa untuk membawanya ke tempat-tempat yang sering dia kunjungi karena dia ingin lebih mengenal Risa.


Risa akhirnya membawanya ke sebuah toko baju. Saat Fukami sedang melihat-lihat, Risa tiba-tiba tertarik pada sebuah cincin cantik sambil berpikir bahwa ini adalah pertama kalinya dia benar-benar berkencan dengan seorang pria.

Tapi saat dia melihat Fukami, senyumnya menghilang memikirkan kemungkinan... "Pria sebaik ini, mungkinkah dia sebenarnya menipuku?"

Fukami memperhatikan keanehan wajahnya dan kontan cemas, apa ada sesuatu yang mau Risa tanyakan padanya? Risa sontak galau mendadak ditanyai begitu, apa yang harus dia lakukan? Tapi akhirnya, dia memberanikan diri menanyakan apa sebenarnya pekerjaannya Fukami?


Tapi alih-alih langsung menjawab, Fukami malah sengaja main tebak-tebakan dan menyuruh Risa menebaknya sendiri. Risa jelas bingung, apa Fukami bekerja jadi sales atau semacamnya?

Fukami menyangkal, "pikirkan lagi."

"Dokter? Pilot? Pengacara?"

Fukami geli mendengarnya dan langsung memeluknya sambil berbisik mesra.  "Penuhilah pikiranmu tentang aku lebih banyak lagi."

Risa jadi tambah gugup yang jelas saja membuat Fukami tambah gemas padanya. Risa benar-benar polos dan sensitif, tidak seperti dirinya. Itu yang dia sukai dari Risa. Tapi tentu saja bukan hanya itu yang dia sukai dari Risa. Dia benar-benar terdengar jujur dan tulus hingga membuat Risa semakin mempercayainya.


Fukami lalu mengantar Risa pulang. Kebetulan di tengah jalan, mereka melihat sepasang suami-istri, tampak begitu bahagia bersama anak-anak mereka. Pemandangan yang kontan menarik perhatian Risa dan Fukami memperhatikan  itu.

Baru saja Risa berpikir bahwa dia juga ingin mereka seperti itu suatu hari nanti... saat tiba-tiba Fukami menyela seolah bisa membaca pikirannya.

"Kita juga akan begitu..." Ujar Fukami.

Hah? Risa kaget mendengarnya. Tapi sedetik kemudian, Fukami malah bilang kalau dia cuma bercanda. Risa kecewa, "apa yang kuharapkan? Tidak mungkin aku punya tempat di masa depannya Fukami-san."


Tiba-tiba Fukami berbalik kembali dan berkata. "Tapi sebelum hari itu tiba, walaupun sekarang ini masih terlalu dini, tapi aku tidak ingin ada 'hama' yang datang mengacau." Ujar Fukami lalu menyelipkan cincin yang tadi Risa lihat di toko, seolah dia sedang mengklaim Risa sebagai miliknya melalui cincin itu.

Dia mengakhirinya dengan kecupan di tangan Risa yang jelas saja membuat Risa jadi semakin bahagia. Dia mengaku kalau dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Apa dia terlalu posesif? Apa Risa tidak menyukainya sekarang?

Risa menyangkal. "Cincin ini... aku akan menghargainya."

Senang, Fukami langsung menggandeng mesra tangan Risa. Semua ini membuat Risa jadi tak peduli lagi tentang identitas Fukami yang sebenarnya. Bahkan sekalipun Fukami menipunya atau semua ini cuma mimpi ataupun cuma kebahagiaan sesaat.


Di kampus, para mahasiswa memperhatikan Risa melamun menatap cincinnya yang jelas saja membuat mereka jadi penasaran. Apa itu cincin dari pacarnya? Salah satu dari para pria itu, Yoshiki, langsung saja duduk di samping Risa dan mencoba menanyainya perihal cincin itu. Dari pacarnya Risa, yah? Risa mengakuinya.

"Satu kampus sama kita?"

"Tidak. Dia sudah kerja."

Yoshiki tambah penasaran, pacarnya Risa kerja apa? Risa jelas bingung harus ngomong apa dan akhirnya asal saja berkata kalau pacarnya itu cuma pekerja kantoran biasa. Yoshiki terus saja tanya-tanya, orangnya seperti apa?

"Dia tampan, dewasa, dan orang yang lembut."


"Begitu, yah." Tiba-tiba saja terdengar suara Fukami muncul di samping Risa pakai baju setelan jas necis plus kacamata.


Risa jelas kaget melihatnya. Apalagi kemudian, Fukami maju ke depan lalu diperkenalkan sebagai CEO Fukami Holdings. Hah? Dia CEO? Risa kaget.

Dan datang sebnagai dosen tamu. Dia mulai menjelaskan tentang perusahaannya yang dibangunnya beberapa tahun yang lalu, sekarang telah memiliki lebih dari 1000 pegawai dan berkembang ke dalam beberapa cabang bisnis.

Risa shock, jadi, apakah percakapan yang didengarnya malam itu adalah tentang ini? Bahwa dia sebenarnya CEO sebuah perusahaan besar? Dia begitu tercengang menatap Fukami dan ekspresinya itu tak luput dari mata jeli Yoshiki.

Selesai pidato, salah seorang mahasiswi tanya apakah Fukami sudah punya pacar? Sontak Risa langsung berpaling ke Fukami dengan tegang. Fukami puna langsung menatapnya dengan intens sambil menjawab pertanyaan si mahasiswi.

"Aku punya. Dia sangat imut. Seandainya aku bisa, aku ingin memeluknya sekarang juga."

Terang saja jawabannya langsung membuat para mahasiswi bersorak heboh.


Setelah kelas usai, Risa langsung pergi mencari Fukami... saat tiba-tiba saja dia ditarik ke dalam kelas kosong oleh siapa lagi kalau bukan Fukami. Dia bahkan langsung memerangkap Risa di antara dirinya dan dinding.

"Apa kau membuatmu takut?"

"Aku harus minta maaf padamu."

Tapi alih-alih mendengarkan Risa mau minta maaf buat apa, Fukami asal saja menebak dengan nada cemburu, apa Risa mau minta maaf karena dia sangat populer terutama dengan pria yang duduk di sebelahnya tadi?

"Bukan itu."

"Kurasa dia menyukaimu, Risa."

Risa tak percaya. Bukan itu yang mau dia bicarakan. Sebelumnya, Risa berpikir bahwa mungkin Fukami menipunya atau semacamnya. Karena itulah, dia minta maaf karena pernah meragukan Fukami.


Alih-alih marah, Fukami langsung saja memeluknya, menyuruh Risa melepas kacamatanya... lalu menci~mnya mesra. Dan tepat saat itu juga, Fukami melihat Yoshiki lewat dan melihat mereka melalui cela pintu dan Fukami kontan tersenyum licik seolah mengklaim kemenangannya sebelum kemudian kembali menci~m Risa.

 

Keesokan harinya, Yoshiki melihat Risa sedang melihat-lihat resep masakan, ingin masak buat Fukami soalnya. Melihat itu, Yoshiki tiba-tiba saja menawarkan diri untuk mengajari Risa masak.

Karena tak enak menolak Yoshiki, Risa akhirnya ikut Yoshiki ke sebuah restoran tempat Yoshiki bekerja paruh waktu dan langsung kagum dengan kemampuan masaknya Yoshiki. Apalagi saat Yoshiki mengaku bahwa dia bercita-cita ingin membuka restorannya sendiri suatu hari nanti.

"Dia sepantaranku, tapi sudah berpikir jauh ke depan. Sedangkan aku, yang kulakukan cuma datang ke Tokyo." Pikir Risa kagum.


Tiba-tiba Yoshiki menawarinya untuk mencoba. Tapi Yoshiki malah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memeluk Risa dari belakang dengan alasan mengajarinya cara memegang penggeorengan yang benar.

Risa jelas gugup dan cemas, apalagi saat dia teringat ucapan Fukami kemarin tentang Yoshiki yang menyukainya. Bisa gawat  kalau Fukami sampai tahu dia berduaan dengan seorang pria di tempat seperti ini.

Ponselnya Risa berbunyi dari Fukami saat itu, tapi dia tidak mendengarnya gara-gara Yoshiki yang menyita seluruh perhatiannya saat tiba-tiba saja Yoshiki memutuskan untuk memanggilnya sok akrab sebagai 'Ri-chan'


Selesai masak, Yoshiki mengantarkannya pulang sambil mengomentari penampilan Risa yang tidak sejalan dengan sifatnya. Ah, ternyata dia pernah melihat Risa gugup setelah didekati beberapa pria.

Dari situlah Yoshiki tahu bahwa ternyata dibalik penampilan yang fashionable dan gayanya yang seperti gadis modern berpengalaman, Risa ternyata sangat gugup setiap kali berhadapan dengan pria. Risa jadi malu, rahasianya ketahuan deh.

"Menurutku kau sangat manis. Aku sudah tertarik padamu sejak saat itu. Jika aku bilang begitu, apa yang kau pikirkan?"


Risa jadi gugup dan bingung mendengarnya. Tepat saat itu juga, tiba-tiba  terdengar suara Fukami memanggilnya. Tapi dia nelpon tapi tidak diangkat. Dia jadi cemas, makanya dia datang menjemput Risa.

Yoshiki malah sengaja memanas-manasi dan memberitahu Fukami bahwa Risa sedari tadi sedang bersamanya, makanya Risa tidak tahu kalau Fukami menelepon.

Tapi alih-alih menunjukkan kecemburuannya, Fukami santai saja mengucap terima kasih karena sudah mengantarkan Risa pulang. Reaksi yang membuat Yoshiki jadi kesal, kenapa Fukami malah santai banget. Tapi sebelum pergi, Yoshiki menegaskan kalau dia tidak akan menyerah untuk mendapatkan Risa.


Risa jadi tak enak pada Fukami dan panik ingin menjelaskan, tapi Fukami malah sama sekali tak mempermasalahkannya. Dia mengerti kok. Risa jadi semakin tak tenang melihat reaksinya begitu, apa Fukami sungguh-sungguh tidak mempermasalahkannya?

"Jika aku melihat orang yang kucintai bersama orang lain, aku pasti tidak menyukainya." Batin Risa galau.


Malam harinya, Fukami membawa Risa ke rumahnya dan memberinya es krim yang sukses membuat mood Risa membaik. Fukami pun senang melihatnya tersenyum lagi. Saat dia menawari Risa kopi, Risa sepertinya masih cemas dan langsung saja mengiyakannya.

Tapi Fukami tahu dia bohong, Risa kan tidak suka pahit (dilihat dari reaksi Risa waktu dia mengernyitkan dahi gara-gara minum kopi pahit). Risa kaget, bagaimana bisa Fukami mengetahuinya?

Alih-alih menjawabnya, Fukami minta izin untuk menjemput Risa lagi besok, soalnya dia mau membawa Risa ke suatu tempat. Risa setuju.


Tapi dia masih gelisah tentang masalah Yoshiki. Karena itulah, dia memberitahu Fukami bahwa besok dia akan menolak Yoshiki. Dia bahkan langsung menyandarkan kepalanya dengan manja pada Fukami seolah takut kehilangan Fukami.

"Fukami-san, terima kasih sudah mencintaiku."

Fukami jadi tambah gemas padanya dan langsung menci~m lehernya, bibirnya, dan  dengan posesif-nya menuntut Risa untuk tidak menunjukkan wajahnya ini pada siapapun... dan yah begitulah selanjutnya, tahulah yah.🙈🙈🙈

 

Keesokan harinya di kampus, Risa mencari Yoshiki dan minta bicara dengannya sebentar. Tapi sepertinya Yoshiki bisa menduga apa yang mau dikatakannya. Karena itulah Yoshiki berusaha menghindarinya dan menolak mendengarkan apapun.

Tapi Risa tetap ngotot mau bicara. Yoshiki sungguh tidak mengerti, kenapa Risa malah mencintai orang itu, padahal kan dia mencintai Risa lebih daripada cintanya orang itu.

"Maaf, satu-satunya orang yang kucintai hanya Fukami-san. Aku tidak bisa memikirkan orang lain selain dia. Maafkan aku."

"Apaan. Kau menolak orang terlalu cepat." Protes Yoshiki.


Tapi saat dia berpaling ke Risa, tiba-tiba saja dia melihat sesuatu yang membuatnya tercengang, sepertinya ada bekas cupang di leher Risa. Yoshiki mendadak jadi agresif dan langsung menyudutkan Risa lalu mulai menyibak rambutnya Risa seolah hendak menci~mnya, dan jelas saja perbuatannya itu membuat Risa gugup dan ketakutan.

Bersambung ke episode 3

Post a Comment

4 Comments