Sinopsis Coffee and Vanilla Episode 1

 Sinopsis Coffee and Vanilla Episode 1


Peringatan!
Adek-adek yang masih kecil dimohon untuk mundur dan tidak membaca sinopsis ini yah. Thanks ^^


Risa Shiragi adalah mahasiswi cantik dan cukup terkenal di kalangan para mahasiswa. Tak jarang banyak mahasiswa yang naksir lalu mencoba mendekatinya dan mengajaknya nongkrong bersama mereka. Tapi sayang, semuanya ditolak oleh Risa.

Biarpun gayanya biasa aja saat menolak mereka, tapi yang tidak para pria itu ketahui, Risa sebenarnya gugup banget tiap kali ada cowok yang mendekatinya.

Dia bercerita kalau dia sebenarnya baru setahun pindah ke Tokyo. Dan selama itu pula dia tidak tahu harus bagaimana setiap kali menghadapi situasi seperti ini. Dia sebenarnya datang dari desa dan tidak terlalu pintar bicara. Dia juga tidak pernah kencan dengan siapapun sebelumnya.


Dia lalu membeli segelas frapuccino di coffee shop langganannya dan iri dengan sepasang kekasih yang tampak mesra di salah satu meja.

"Aku ingin berubah. Aku ingin jatuh cinta seperti yang mereka lakukan di dalam manga atau drama. Tapi... Satu-satunya yang berubah hanyalah penampilanku. Aku tidak ditakdirkan untuk memiliki percintaan."

Tiba-tiba saja ada cowok yang duduk di hadapannya dan tanpa basa-basi mencoba merayunya dan mangajaknya jalan yang jelas saja terlalu menakutkan bagi Risa. Parahnya lagi, saat Risa berusaha melarikan diri, pria itu malah tambah agresif menuntut Risa untuk memberikan nomor hapenya.


Risa benar-benar ketakutan... saat tiba-tiba saja muncul seorang pria tampan yang menyelamatkannya dengan pura-pura seolah dia adalah pacarya Risa yang datang terlambat dan meminta maaf karena sudah membuat Risa menunggu lama.

"Pergi, yuk." Ucap pria itu dengan lembut lalu merangkul Risa pergi.

Risa sepertinya begitu terpesona pada pria itu hingga dia nurut aja tanpa protes sedikitpun saat pria asing itu membawanya keluar. Setelah mereka cukup jauh dan aman, pria itu akhirnya melepaskannya.


"Terima kasih banyak."

"Tidak masalah. Jadi populer itu berat, yah?"

"Tidak kok."

Pria itu akhirnya pamit. Tapi baru beberapa langkah, tiba-tiba saja dia berbalik kembali dan menanyakan hal yang sama seperti pria dia coffee shop tadi. Apa Risa ada waktu malam ini?

Tapi reaksi Risa kali ini sangat berbeda. Sepertinya dia benar-benar terpikat hingga dia langsung saja mengiyakannya tanpa mempertanyakan apapun. Pertama kalinya dia menerima ajakan cowok.
 

Pria itu akhirnya membawanya makan malam di sebuah restoran mewah, tapi Risa benar-benar bingung harus bagaimana sekarang dan terus menerus menundukkan kepala. Dia kan nggak pernah kencan sebelumnya. Pria itu menyadari kegugupannya dan dengan lembut meyakinkan Risa untuk tidak tegang.

"Maaf karena mengajakmu secara tiba-tiba. Tapi karena kesibukan kerja, aku cuma bisa hari ini."

Tapi alih-alih tanya langsung, Risa malah cuma bertanya-tanya dalam hati tentang apa pekerjaan pria itu. Pria itu mengaku kalau dia bakalan kesepian kalau makan sendirian. Lagi-lagi, Risa bertanya-tanya dalam hatinya, apa itu artinya pria ini tidak punya pacar?

"Apa kau tidak suka berduaan dengan pria 30 tahun?" Tanya Pria itu.

"Tidak, tidak begitu." Risa kontan panik hingga akhirnya dia mengangkat pandangannya... dan mendapati pria itu tengah menatapnya.

"Akhirnya kau menatap mataku. Boleh aku tahu siapa namamu?"

"Shiragi Risa."

"Aku Fukami Hiroto. Risa-chan, kau sudah cukup umur, kan? Apa kau bisa minum wine?"


Risa tambah gugup, sebenarnya dia tidak pernah minum itu sebelumnya. Tapi dia gengsi untuk mengakuinya dan akhirnya memutuskan untuk menerimanya dengan pikiran bahwa mereka mungkin akan lebih enak ngobrol jika agak mabuk. Lagian dia yakin kalau Fukami pasti tidak akan mungkin menyukai seseorang sepertinya.

Tapi saat wine disajikan tak lama kemudian dan Risa baru meminumnya seteguk, dia malah langsung pusing... dan pingsan. (Waduh! Dia nggak diapa-apain kan?)


Risa terbangun keesokan harinya dan langsung shock mendapati dirinya berada di dalam kamar asing. Err... kayaknya dia nggak diapa-apain deh. Dia ingat kalau semalam dia makan dengan Fukami dan minum wine, terus... tidak ingat apa-apa lagi.
 

Fukami sedang membuat kopi saat dia keluar. Risa gugup banget... tapi malah jadi tambah gugup saat melihat Fukami yang baru saja mandi dengan kemeja setengah terbuka. Fukami memberitahu kalau semalam Risa tertidur di restoran.

Risa kontan kesal mengomeli dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia mabuk di hadapan seseorang yang baru pertama kali dia kenal. Fukami cemas melihatnya, apa dia baik-baik saja?

"Maaf. Aku sungguh minta maaf."

Fukami tersenyum melihat itu. "Jadi kau tidak waspada saat bersamaku?"

Dia lalu membuatkan mereka berdua kopi. Tapi Risa sontak mengernyit saat mencoba meminumnya, mungkin karena tidak terbiasa dengan kopi pahit. Dia lalu melihat Fukami memakai dasinya lalu kebingunga mencari ring dasinya.


Risa-lah yang menemukannya di karpet. Tapi saat dia hendak menyerahkannya, dia malah tak sengaja jadi terlalu dekat dengan Fukami... hingga membuat mereka jadi oleng dan Fukami terjatuh menindih Risa ke sofa.

Lalu Risa tiba-tiba saja merem (Pfft! mungkin berharap dici~m). Fukami langsung menundukkan kepalanya dan hampir saja menci~mnya... saat tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.


Dia akhirnya mengurungkan niatnya dan beranjak bangkit. Risa jadi semakin gugup dan galau, dia barusan mau dici~m? Atau Fukami cuma mau mempermainkannya? Dipikir-pikir, dia belum pernah dapat ci~man pertama.

Fukami meminta maaf, ini belum pernah terjadi sebelumnya. "Kita baru saja bertemu, tapi aku jatuh cinta padamu sejak pandangan pertama. Kalau kau tidak keberatan, maukah kau berkencan denganku?"

Risa shock, sungguh sulit dipercaya pria sekeren Fukami akan jatuh cinta padanya. Tidak mungkin, dia tidak boleh tertipu. Itu kata hatinya Risa, tapi saat Fukami kecewa akan reaksinya, dia mendadak panik lalu tiba-tiba dia berkata.

"Kalau kau tidak keberatan dengan orang sepertiku." (Hah? Segampang itu dia percaya dan nerima orang asing? Kenal aja baru sehari)


Fukami terharu dan langsung memeluk Risa erat-erat. Tentu saja dia tidak keberatan dan langsung mengecup lembut keningnya dan menci~m bibirnya... lalu membaringkan Risa di sofa. (Waduh, waduh, mau ngapain?!)

Dia sudah mau menci~mnya lagi saat tiba-tiba Risa mengaku bahwa ini adalah pertama kali baginya, apa tidak masalah? Fukami akhirnya menahan diri dan cuma mengecup keningnya.


"Maaf, kau terlalu imut sampai aku tidak bisa berhenti. Kalau kau lebih imut lagi, aku tidak akan bisa menahan diri lagi." Fukami akhirnya beranjak bangkit dan menyuruh Risa bersiap keluar.

Risa masih shock dan sulit mempercayainya, ini bukan mimpi, kan? Akhirnya... "Aku punya pacar pertamaku!"

Risa lalu menceritakan masalah ini pada temannya yang jelas curiga, jangan-jangan Risa ditipu lagi. Lagian tuh cowok kan belum menghubungi Risa selama seminggu ini. Apa pekerjaan pria itu? Dan Risa langsung speechless. (Pfft!)

"Tuh kan! Dia pasti penipu pernikahan atau pengusaha yang aneh. Kau terlalu naif."


Risa jadi ragu juga sekarang. Temannya menyarankannya untuk menelepon cowok itu, Risa pacarnya, kan? Risa jadi galau. Tapi iya sih, dia kan sekarang pacarnya Fukami, jadi nggak masalah kalau dia nelpon.

Dia akhirnya memantapkan hati untuk menelepon Fukami. Dia baru saja memberitahu Fukami bahwa dia sedang berada di cafe tempat mereka pertama kali bertemu, tapi malah mendengar suara cewek di latar belakang. Risa shock.


Risa jadi semakin gelisah agara-gara itu, dia ingin sekali bertemu Fukami, tapi dia tidak tahu harus bagaimana? Dia tengah berjalan... saat tiba-tiba saja Fukami muncul dan langsung memeluknya dari belakang.

"Syukurlah kau masiha di sini. Setelah mendengar suartamu tadi, aku langsung lari ke sini. Aku sangat merindukanmu."

Risa tercengang. "Aku?"

"Siapa lagi? Aku sangat mencintaimu sampai mau gila rasanya."

Risa terharu. "Aku juga."

Fukami senang, besok dia bisa cuti... yang itu artinya, dia akan membawa Risa bersamanya. Bersiaplah untuk malam ini. "Aku akan mengambil setiap bagian dari dirimu, Risa-chan."


Fukami lalu membawa Risa ke rumahnya... lalu mulai membelai wajah Risa dan mendekatkannya wajahnya. Risa langsung merem menanti kejadian selanjutnya, tapi Fukami ternyata cuma menggodanya. Dia malah langsung menjauh dan cuma menepuk-nepuk kepala Risa. Risa kecewa, berpikir bahwa mungkin Fukami tidak suka dengan gadis yang tak punya pengalaman seperti dirinya.


Fukami tiba-tiba memanggilnya untuk memperlihatkan pemandangan kota yang bisa dilihat dari jendela kamarnya. Tapi sayangnya, hujan malah turun. Fukami jadi tak enak padanya.

"Tidak masalah. Aku suka hujan kok. Bukankah suara hujan bisa membuatmu merasa tenang?"

"Rasanya cuma ada kita berdua di dunia ini. Saat kau bersamaku, hujan tidak terasa buruk."

Risa galau melihat sosok punggung Fukami, dia ingin sekali memeluknya dari belakang. Fukami tiba-tiba berpaling padanya dan menawarkan pelukan. Risa pun langsung lari ke dalam pelukannya tanpa ragu.


Tapi saat Risa memanggilnya sebagai 'Fukami-san', Fukami tak suka dan menyuruh Risa untuk memanggil namanya saja, Hiroto (fukami itu nama keluarga). Dia bahkan menuntut Risa memanggil namanya sekarang juga.

Risa ragu dan malu untuk memanggilnya seperti itu, apalagi Fukami semakin mendekatkan wajahnya yang membuat Risa jadi tambah gugup. Tapi Fukami memaksa, bahkan mengancam tidak akan melepaskan Risa sampai Risa mengucap namanya.

Risa akhirnya mencoba mengucap namanya dengan terbata-bata saking gugupnya. Hiroto ngotot memaksanya untuk mengulang sampai Risa akhirnya bisa mengucap namanya dengan lancar. Fukami senang dan langsung menghadiahinya dengan kecup kening.


Dia lalu mengajak Risa ke kamar, saatnya tidur. Tapi Risa malah menolak, dia belum ingin tidur. Mendengar itu, Fukami langsung memeluknya erat. Kalau begitu, dia akan membuat Risa terjaga.

"Risa, biarkan aku menjadi pria pertama dan terakhir-mu."

Fukami akhirnya membawanya ke kamar, lalu mulai menci~mnya dan menuntunnya selembut mungkin... dan selanjutnya bayangan aja sendiri-sendiri yah sodara-sodara.🙈🙈🙈


Risa terbangun tengah malam, tapi Fukami tidak ada di sisinya. Tepat saat itu juga, dia mendengar Fukami bicara di telepon dengan seseorang. Sepertinya Fukami sedang membicarakan dirinya karena Risa mendengar Fukami menyebut nama universitasnya. Tapi kemudian, dia malah mendengar sesuatu yang membuatnya tercengang.

"Yah, kurasa akan mengejutkan jika identitasku ketahuan."

Risa jelas langsung cemas mendengarnya. "Fukami-san... siapa dia yang sebenarnya?"

Bersambung ke episode 2

Post a Comment

1 Comments